Sabtu, 20 April 2013


MAHASISWA
 ESENSISNYA AKADEMIS… SUBTANSINYA ORGANISATORIS
*Oleh Nurdiansah Dwi Sasongko, S.Pd.Si

Mahasiswa adalah agen social of change (agen perubahan social) dimana seorang mahasiswa dituntut untuk peka terhadap realitas yang terjadi dilingkungan sekitarnya, baik itu lingkungan kampus, masyarakat, maupun negara. Selain harus peka terhadap lingkungannya, mahasiswa dituntut untuk bias menjadi “roda” penggerak perubahan di lingkungannya. Akan tetapi selain kewajiban social yang harus diemban oleh seorang mahasiswa, mahasiswa juga mempunyai kewajiban individual yaitu untuk menyelesaikan tugas kuliahnya tepat waktu. Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah manakah dari kewajiban itu yang harus diprioritaskan. Apakah kewajiban mahasiswa sebagai seorang individu yang sedang menuntut ilmu, ataukah kewajiban mahasiswa sebagai makhluk social yang dituntut untuk bisa menjadi agen perubahan.



Ketika sebuah prioritas dipertanyakan maka mahasiwa akhirnya terkotak pada sebuah definisi yang mereka buat sendiri. Jika seorang mahasiswa yang memprioritaskan dirinya sebagai makhluk individu yang tugas utamanya adalah menuntut ilmu dikampus dan mengesampingkan kewajibannya sebagai makhluk social maka mahasiswa tersebut akan disebut mahasiswa yang akademis. Sedangkan mahasiswa yang memprioritaskan dirinya sebagai makhluk social yang tugas utamanya adalah sebagai agen perubahan dengan mengesampingkan kewajibannya sebagai makhluk individu maka mahasiswa tersebut akan disebut mahasiswa yang organisatoris.
Pemahaman yang salah mengenai mahasiswa baik mahasiswa akademik maupun mahasiswa organisatoris terus berlangsung hingga sekarang karena adanya pengotak-kotakan mengenai definisi. Secara esensi mahasiswa adalah seorang manusia akademik sesuai dengan bidang keilmuannya. Dan secara substansi mahasiswa juga adalah seorang manusia politik yang mengatur dan memanage setiap sesuatu yang berkaitan dengan kehidupannya. Jadi secara umum mahasiswa sebenarnya adalah manusia akademis dan organisatoris. Maka apabila ada seorang mahasiswa yang hanya berkutat pada kegiatan akademisnya, mahasiswa itu sudah kehilangan substansinya sebagai mahasiswa. Dan juga dengan mahasiswa yang hanya berkutat dengan dunia organisainya maka mahasiswa itu sudah kehilangan esensinya sebagai seorang mahasiswa.


Seorang mahasiswa yang terlalu akademis, cenderung tidak peka terhadap masalah-masalah yang terjadi disekitarnya, sehingga walaupun mahasiswa akademis secara akademis nilai yang dicapainya memuaskan atau bahkan sangat baik, akan tetapi akan kesulitan ketika ia sudah terjun langsung di dunia masyarakat. Karena ilmu-ilmu akademis tidak bisa dijadikan landasan berpijak dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi dimasyarakat karena masalah-masalah yang terjadi di masyarakat sangatlah kompleks dan membutuhkan pembiasaan dalam proses penyelesaiannya dan proses pembiasaan itu ada ketika ketika kita belajar berorganisai, karena dalam berorganisai kita dapat belajar menganai atauran-aturan baku seperti AD/ART, selain itu kita juga bisa belajar bagaimana bersosialisasi, bagaimana administrasi, mengetahui apa itu konflik dan cara yang tepat untuk memanajemen konflik. Ilmu seperti  itu tidaklah ada dalam mata kuliah, kalaupun ada itu hanyalah sekedar teori, praktek real tentang ilmu-ilmu tersebut adalah di dunia organisasi.
Sementara mahasiswa yang terlalu sibuk dengan organisasinya, cenderung akan mengabaikan kehidupan akademisnya. Indeks Prestasi (IP) nya akan jeblok. Dan kehidupan organisasi dijadikan alasan atas jebloknya prestasi akademisnya. Hal seperti itu tentu tidaklah bisa dibenarkan. Jebloknya IP itu bukanlah kesalahan dari organisasi yang digeluti akan tetapi lebih pada individu itu sendiri.
Sebagai manusia dewasa seharusnya mahasiswa mampu untuk menyelaraskan antara kehidupan akademis maupun organisasi. Tidak ada alasan lagi bagi seorang mahasiswa untuk tidak berorganisasi. Dan untuk mengembangkan potensi diri pilihlah organisasi yang sekiranya dapat dijadikan ruang berekspresi dan sesuai dengan minat, bakat. Tidak terbawa arus, ikut-ikutan atau hanya karena bujuk rayu. Seharusnya juga sebagai seorang mahasiswa yang berorganisi indeks prestasinya juga memuaskan. Tidak ada alasan lagi, membolos kuliah karena organisasi, tidak ikut ujian karena organisasi dan indeks prestasinya jeblok karena organisasi. Jika seorang mahasiswa sudah bisa menselaraskan antara kehidupan organisasi dan akademisnya dapat menselaraskan antara esensi dan substansi maka julukan mahasiswa sebagai agen perubah social akan menjadi tepat. Karena seorang agen perubahan haruslah tau tentang dirinya sendiri, haruslah tau akan lingkungannya. Dan itu bisa didapatkan apabila adanya keselarasan antara kehidupan akademis maupun organisasinya.
*Penulis adalah dewan pembina Metamorfosa

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa