MAHASISWA
ESENSISNYA
AKADEMIS… SUBTANSINYA ORGANISATORIS
*Oleh Nurdiansah
Dwi Sasongko, S.Pd.Si
Mahasiswa adalah agen social of
change (agen perubahan social) dimana seorang mahasiswa dituntut untuk peka
terhadap realitas yang terjadi dilingkungan sekitarnya, baik itu lingkungan
kampus, masyarakat, maupun negara. Selain harus peka terhadap lingkungannya,
mahasiswa dituntut untuk bias menjadi “roda” penggerak perubahan di
lingkungannya. Akan tetapi selain kewajiban social yang harus diemban oleh
seorang mahasiswa, mahasiswa juga mempunyai kewajiban individual yaitu untuk
menyelesaikan tugas kuliahnya tepat waktu. Menjadi pertanyaan selanjutnya
adalah manakah dari kewajiban itu yang harus diprioritaskan. Apakah kewajiban
mahasiswa sebagai seorang individu yang sedang menuntut ilmu, ataukah kewajiban
mahasiswa sebagai makhluk social yang dituntut untuk bisa menjadi agen
perubahan.
Ketika sebuah prioritas
dipertanyakan maka mahasiwa akhirnya terkotak pada sebuah definisi yang mereka
buat sendiri. Jika seorang mahasiswa yang memprioritaskan dirinya sebagai
makhluk individu yang tugas utamanya adalah menuntut ilmu dikampus dan
mengesampingkan kewajibannya sebagai makhluk social maka mahasiswa tersebut
akan disebut mahasiswa yang akademis. Sedangkan mahasiswa yang memprioritaskan
dirinya sebagai makhluk social yang tugas utamanya adalah sebagai agen perubahan
dengan mengesampingkan kewajibannya sebagai makhluk individu maka mahasiswa
tersebut akan disebut mahasiswa yang organisatoris.
Pemahaman yang salah mengenai
mahasiswa baik mahasiswa akademik maupun mahasiswa organisatoris terus
berlangsung hingga sekarang karena adanya pengotak-kotakan mengenai definisi.
Secara esensi mahasiswa adalah seorang manusia akademik sesuai dengan bidang
keilmuannya. Dan secara substansi mahasiswa juga adalah seorang manusia politik
yang mengatur dan memanage setiap sesuatu yang berkaitan dengan kehidupannya.
Jadi secara umum mahasiswa sebenarnya adalah manusia akademis dan
organisatoris. Maka apabila ada seorang mahasiswa yang hanya berkutat pada
kegiatan akademisnya, mahasiswa itu sudah kehilangan substansinya sebagai
mahasiswa. Dan juga dengan mahasiswa yang hanya berkutat dengan dunia
organisainya maka mahasiswa itu sudah kehilangan esensinya sebagai seorang
mahasiswa.
Seorang mahasiswa yang terlalu
akademis, cenderung tidak peka terhadap masalah-masalah yang terjadi disekitarnya,
sehingga walaupun mahasiswa akademis secara akademis nilai yang dicapainya
memuaskan atau bahkan sangat baik, akan tetapi akan kesulitan ketika ia sudah
terjun langsung di dunia masyarakat. Karena ilmu-ilmu akademis tidak bisa
dijadikan landasan berpijak dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi
dimasyarakat karena masalah-masalah yang terjadi di masyarakat sangatlah
kompleks dan membutuhkan pembiasaan dalam proses penyelesaiannya dan proses
pembiasaan itu ada ketika ketika kita belajar berorganisai, karena dalam
berorganisai kita dapat belajar menganai atauran-aturan baku seperti AD/ART,
selain itu kita juga bisa belajar bagaimana bersosialisasi, bagaimana
administrasi, mengetahui apa itu konflik dan cara yang tepat untuk memanajemen
konflik. Ilmu seperti itu tidaklah ada
dalam mata kuliah, kalaupun ada itu hanyalah sekedar teori, praktek real
tentang ilmu-ilmu tersebut adalah di dunia organisasi.
Sementara mahasiswa yang terlalu
sibuk dengan organisasinya, cenderung akan mengabaikan kehidupan akademisnya.
Indeks Prestasi (IP) nya akan jeblok. Dan kehidupan organisasi dijadikan alasan
atas jebloknya prestasi akademisnya. Hal seperti itu tentu tidaklah bisa
dibenarkan. Jebloknya IP itu bukanlah kesalahan dari organisasi yang digeluti
akan tetapi lebih pada individu itu sendiri.
Sebagai manusia dewasa seharusnya
mahasiswa mampu untuk menyelaraskan antara kehidupan akademis maupun
organisasi. Tidak ada alasan lagi bagi seorang mahasiswa untuk tidak
berorganisasi. Dan untuk mengembangkan potensi diri pilihlah organisasi yang
sekiranya dapat dijadikan ruang berekspresi dan sesuai dengan minat, bakat.
Tidak terbawa arus, ikut-ikutan atau hanya karena bujuk rayu. Seharusnya juga
sebagai seorang mahasiswa yang berorganisi indeks prestasinya juga memuaskan. Tidak
ada alasan lagi, membolos kuliah karena organisasi, tidak ikut ujian karena
organisasi dan indeks prestasinya jeblok karena organisasi. Jika seorang
mahasiswa sudah bisa menselaraskan antara kehidupan organisasi dan akademisnya
dapat menselaraskan antara esensi dan substansi maka julukan mahasiswa sebagai
agen perubah social akan menjadi tepat. Karena seorang agen perubahan haruslah
tau tentang dirinya sendiri, haruslah tau akan lingkungannya. Dan itu bisa
didapatkan apabila adanya keselarasan antara kehidupan akademis maupun
organisasinya.
*Penulis
adalah dewan pembina Metamorfosa
RSS Feed
Twitter
4/20/2013 03:05:00 AM
Unknown
Posted in
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa