Selasa, 25 Juni 2013


*oleh : Amad Gloecossa (A.N.S.)

Mereka tidak benar benar mengerti
Risau angin yang berhembus dari sabang sampai merauke
Melintasi ribuan kilometer tanah dan air
Berhembus sambil mendengus aroma hangus

Mereka tidak benar benar mengerti
Gejolak ombak di sisi pantai yang membentang
Siap menerjang, meski karang menghadang
Tak gentar, siap meradang

Mereka tidak benar benar mengerti
Intan-intan berlian yang brilian
Bersembunyi dalam lautan pikiran
Pada setiap purnamanya rembulan

Mereka tidak benar benar mengerti
Gelora api membara dimana-mana
Membahana di setiap sudut kota
Hingga mampu meruntuhkan raja dari atas singgasana

Mereka tidak benar benar mengerti
Ikatan dalam dunia semut
Bisa mengamuk tapi juga lembut
Tergantung lidah yang bermulut

Tidak, mereka tidak akan pernah mengerti.
kecuali hanya gedung-gedung berlinang senja,
Yang di dalamnya tersaji wangi bunga
Asmara, hanya nafsu belaka

Tidak, mereka tidak akan pernah mengerti.
Kecuali aroma rempah-rempahnya,
gemuk ikan di sisi pantai,
gemah ripah loh jinawih slogannya yang nyata di depan mata mereka

Mereka tidak benar benar mengerti
Dan tidak akan pernah mengerti
Makna tirai bangsaku.

Black Stone Coffee,
Yogyakarta, 14 Mei 2013



Minggu, 23 Juni 2013


Di tengah hangatnya perbincangan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, STPMD mengadakan kuliah umum bertema “Pemilu 2014 dan Perbaikan Kualitas Demokrasi Indonesia”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang B1 Pasca Sarjana Ilmu Pemerintahan STPMD, Sabtu (16/6). Hadir 42 mahasiswa dari berbagai Universitas di wilayah Yogyakarta termasuk UIN Sunan Kalijaga serta beberapa dosen. Kegiatan ini bertujuan mensosialisasikan pentingnya tingkat partisiapasi masyarakat dalam pemilu 2014 mendatang.
Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasiladan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Begitu yang diungkapkan Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perluden) selaku Pemateri. “Tingkat partisipasi pemilih terus menurun dari 92% pemilu 1999, menjadi 84% pemilu 2004, dan angka 71% pemilu 2009. Secara konsisten rata-rata penurunan dari tiga periode pemilu sebesar kurang lebih 10 persen,” tambahnya.
Kegiatan tersebut disambut dengan antusias oleh para peserta yang hadir. Terlihat dari beberapa pertanyaan yang diajukan. Seperti Wahid, mahasiswa UGM, mengenai pemilu dan rencana kenaikan dana bantuan Negara untuk partai politik (Parpol) serta transparansi suatu parpol. Juga Nur Hayati, perwakilan dari UIN angkat bicara mengenai bagaimana cara dan strategi mensosialisasikan kepada kalangan muda (pemilih pemula) dan kalangan yang sudah berumur untuk mengetahui pentingnya pergi ke TPS.
Beberapa menit setelah itu, Widodo, dosen STPMD, mengungkapkan pernyataan yang berbanding terbalik dengan Titi Anggraini yang menyatakan bahwa setiap masyarakat harus ke TPS karena one person, one voice, one value. “Saya tidak setuju jikalau masyarakat dipaksa untuk ke TPS, lebih baik mereka tidak ke TPS dan mempunyai alasan yang rasional dari pada ke TPS hanya sia-sia asal mencoblos. Artinya jika di paksa ke TPS, di pertanyakan letak demokrasinya,” ungkapnya disertai pernyataan panjang lainnya.
Pernyataan dari Widodo rupanya tak menghentikan rasa haus bertanya peserta terkait pemilu dan antek-antek dibelakangnya. Pertanyaan terus dilontarkan dan pemateri pun selalu menjawab dengan gaya khasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan kuliah umum bertema “Pemilu 2014 dan Perbaikan Kualitas Demokrasi Indonesia” ini didukung dan di apresiasi oleh kalangan mahasiswa maupun dosen. Oleh karena itu, selaku mahasiswa dituntut untuk ikut serta membantu mensosialisasi pentingnya hak suara seseorang untuk suatu perubahan.

One Person, One Voice, One Value (Izza).