Hujan abu dari letusan
gunung kelud memang telah berlalu. Namun
sisa abu masih berserakan di banyak tempat
meskipun hujan beberapa kali mengguyur, tetap ketika panas datang abu tersebut
muncul lagi. Begitupun
juga sekarang tepatnya pada gunung Slamet juga mengalami hujan abu vulkanik.
Seperti apa yang dikatakan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas sudah mengirim contoh abu vulkanis ke laboratorium kesehatan di Yogyakarta
untuk diteliti.
Pemeriksaan
tersebut ditujukan untuk mengetahui apakah abu tersebut membahayakan kesehatan warga atau tidak. ”Jika
abu atau material yang jatuh itu membahayakan warga, masker yang telah
didistribusikan harus dipakai,” pungkasnya. (Jogja.Okezone.com)
BPBD
Kabupaten Sukoharjo, kata Suprapto, masyarakat diminta untuk bertahan dalam
rumah masing-masing. Syukur, bersedia menunda aktifitas sementara. Jika tidak
penting, kata Suprapto, diharapkan masyarakat tidak keluar rumah dulu untuk
saat ini. Jika
keluar rumah, dengan kepentingan tertentu, juga diimbau juga untuk menggunakan
kacamata dan masker. Ini mengingat abu sangat berbahaya untuk kesehatan. (republika.co.id)
Dampak dari abu vulkanik jika terhirup oleh manusia akan mengakibatkan
gangguan tenggorokan sampai gangguan pada pernafasan. walau kecil, abu vulkanik
memiliki bentuk yang runcing, sehingga cukup berbahaya bagi kesehatan, tidak
hanya dalam pernafasan, namun juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan
mata.
Dokter susilo pradyarto saat di temui oleh Tiwi, (Kawan Redaksi Metamorfosa)
juga menghimbau masyarakat agar tetap menggunakan masker,
terutama di siang hari, untuk memlimalisir abu yang dapat terhirup. “Terkait penggunaan
masker yang benar, kepala puskesmas galur I, kulon progo ini juga menuturkan
bahwa yang benar adalah bagian putihnya di luar,” Pungkasnya.
Widyayanti, Amd, staf di
puskesmas pengasih II, di tempat
terpisah juga menghimbau agar tetap menggunakan masker dan kacamata bila perlu,
terutama ketika berpergian. selain itu yanti juga menambahkan, agar masyarakat
segera membersihkan lingkungan sekitar menggunakan air, sehingga abu tidak
berterbangan dan tidak terhirup. peralatan makan juga harus terbebas dari abu ketika hendak
digunakan.
Beberapa factor yang dapat mempengaruhi dari dampak
abu vulkanik terhadap kesehataan meliputi konsentrasi partikel, proporsi debu
yang terhirup oleh manusia, dan kondisi meteorology. Partikel debu vulkanik
yang halus memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu berkisar dari 10 mikron dan
dapat berpotensi menggangu pernapasan pada manusia. Sedangkan debu yang kuran
dari 5 mikron mampu menempus organ paru-paru manusia. Debu yang yang disertai
Kristal silica ini mampu menimbulkan dampak penyebab gangguan pernapasan berat.
Begitupun juga vulkanik yang masih memiliki hawa panas dapat membawa debu
piroklastik yang permukaannya tidak merata dan cenderung tajam seperti pecahan
kaca. Dampak dari debu piroklastik menyebabkan kematian dikarenakan luka pada
saluran pernafasan manusia.
Salah satu debu vulkanik yang perlu diwaspadai yaitu
debu yang disertai gas CO, H2S, SO2 dan memiliki sifat asam. Efek yang dampak
abu vulkanik bagi kesehatan yaitu efek akut dan kronik. Efek akut dapat
dipastikan iritasi pada saluran pernafasan, infeksi saluran pernafasan akut
(ISPA) atau kesulitan bernafas seperti penyakit orang yang terkena ASMA.
Agus mengatakan, efek
kronik terjadi setelah paparan bertahun-tahun. Hal ini ditandai adanya
penumpukan abu silika dalam paru, yang disebut silikosis. Penderita akan
mengalami penurunan fungsi paru dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Efek dapat dicegah dengan
penggunaan masker khusus. "Gunakan masker. Jika memungkinkan gunakan
masker kategori N 95-N 100”.
Masker
dapat mencegah masuknya debu
berukuran kurang dari 10 mikron.
Bila
telanjur terpapar, secepatnya ke fasilitas kesehatan terdekat. Untuk efek akut
bisa diatasi dengan obat batuk, pengurang sesak, pengencer dahak, atau radang. Pemeriksaan sederhana
yang dilakukan adalah pengukuran menggunakan peakflow. Alat ini mengukur puncak
udara keluar dari paru-paru. Sedangkan untuk paparan yang lebih lama, biasanya
diperlukan rontgen paru. (Kompas.com)
[Tiwi, Allam-Meta]
RSS Feed
Twitter
3/31/2014 11:02:00 PM
Unknown