Senin, 31 Maret 2014


Hujan abu dari letusan gunung kelud memang telah berlalu. Namun sisa abu masih berserakan di banyak tempat meskipun hujan beberapa kali mengguyur, tetap ketika panas datang abu tersebut muncul lagi. Begitupun juga sekarang tepatnya pada gunung Slamet juga mengalami hujan abu vulkanik. Seperti apa yang dikatakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas sudah mengirim contoh abu vulkanis ke laboratorium kesehatan di Yogyakarta untuk diteliti.

Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mengetahui apakah abu tersebut membahayakan kesehatan warga atau tidak. ”Jika abu atau material yang jatuh itu membahayakan warga, masker yang telah didistribusikan harus dipakai,” pungkasnya. (Jogja.Okezone.com)

BPBD Kabupaten Sukoharjo, kata Suprapto, masyarakat diminta untuk bertahan dalam rumah masing-masing. Syukur, bersedia menunda aktifitas sementara. Jika tidak penting, kata Suprapto, diharapkan masyarakat tidak keluar rumah dulu untuk saat ini. Jika keluar rumah, dengan kepentingan tertentu, juga diimbau juga untuk menggunakan kacamata dan masker. Ini mengingat abu sangat berbahaya untuk kesehatan. (republika.co.id)

Dampak dari abu vulkanik jika terhirup oleh manusia akan mengakibatkan gangguan tenggorokan sampai gangguan pada pernafasan. walau kecil, abu vulkanik memiliki bentuk yang runcing, sehingga cukup berbahaya bagi kesehatan, tidak hanya dalam pernafasan, namun juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. 

Dokter susilo pradyarto saat di temui oleh Tiwi, (Kawan Redaksi Metamorfosa) juga menghimbau masyarakat agar tetap menggunakan masker, terutama di siang hari, untuk memlimalisir abu yang dapat terhirup. “Terkait penggunaan masker yang benar, kepala puskesmas galur I, kulon progo ini juga menuturkan bahwa yang benar adalah bagian putihnya di luar,” Pungkasnya.

Widyayanti, Amd, staf di puskesmas pengasih II,  di tempat terpisah juga menghimbau agar tetap menggunakan masker dan kacamata bila perlu, terutama ketika berpergian. selain itu yanti juga menambahkan, agar masyarakat segera membersihkan lingkungan sekitar menggunakan air, sehingga abu tidak berterbangan dan tidak terhirup. peralatan makan juga harus terbebas dari abu ketika hendak digunakan.

Beberapa factor yang dapat mempengaruhi dari dampak abu vulkanik terhadap kesehataan meliputi konsentrasi partikel, proporsi debu yang terhirup oleh manusia, dan kondisi meteorology. Partikel debu vulkanik yang halus memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu berkisar dari 10 mikron dan dapat berpotensi menggangu pernapasan pada manusia. Sedangkan debu yang kuran dari 5 mikron mampu menempus organ paru-paru manusia. Debu yang yang disertai Kristal silica ini mampu menimbulkan dampak penyebab gangguan pernapasan berat. Begitupun juga vulkanik yang masih memiliki hawa panas dapat membawa debu piroklastik yang permukaannya tidak merata dan cenderung tajam seperti pecahan kaca. Dampak dari debu piroklastik menyebabkan kematian dikarenakan luka pada saluran pernafasan manusia.

Salah satu debu vulkanik yang perlu diwaspadai yaitu debu yang disertai gas CO, H2S, SO2 dan memiliki sifat asam. Efek yang dampak abu vulkanik bagi kesehatan yaitu efek akut dan kronik. Efek akut dapat dipastikan iritasi pada saluran pernafasan, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau kesulitan bernafas seperti penyakit orang yang terkena ASMA.

Agus mengatakan, efek kronik terjadi setelah paparan bertahun-tahun. Hal ini ditandai adanya penumpukan abu silika dalam paru, yang disebut silikosis. Penderita akan mengalami penurunan fungsi paru dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Efek dapat dicegah dengan penggunaan masker khusus. "Gunakan masker. Jika memungkinkan gunakan masker kategori N 95-N 100”.

 Masker dapat mencegah masuknya debu berukuran kurang dari 10 mikron. Bila telanjur terpapar, secepatnya ke fasilitas kesehatan terdekat. Untuk efek akut bisa diatasi dengan obat batuk, pengurang sesak, pengencer dahak, atau radang. Pemeriksaan sederhana yang dilakukan adalah pengukuran menggunakan peakflow. Alat ini mengukur puncak udara keluar dari paru-paru. Sedangkan untuk paparan yang lebih lama, biasanya diperlukan rontgen paru. (Kompas.com) [Tiwi, Allam-Meta]

 

2 komentar:

  1. Wal hasil, banyak yang belum tau ni, termasuk juga aku.. terima kasih infone... follow back

    BalasHapus
  2. saling berbagi informasi kakak :D

    BalasHapus

Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa