Minggu, 26 Mei 2013

Oleh: Mas Allam*
Hari raya besar waisak merupakan hari yang sangat penting dalam kalender Budha dan dirayakan oleh kaum Budha sedunia. Pada hari besar waisak ini para kaum budha berkumpul di berbagai kuil sebelum fajar menyongsong untuk melakukan upacara tiga mustika suci: Sang budha, Dharma, sangha. Upacara yang dilakukan yaitu persembahan sederhana berupa bunga, lilin, dan dupa yang akan ditaruh di kaki para biksu-biksu. Persembahan yang dilakukan ini bermaksud untuk merefleksi para umat Budha bahwa hidup juga akan musnah dan hancur sama seperti persembahan yang mereka lakukan yang nantinya seperti akan habis terbakarnya oleh dupa, lilin, dan layunya bunga.
Para umat Budha percaya dengan tindakan-tindakan yang baik pada hari waisak ini. Mereka menyakini bahwa apa yang dilakukan akan memberi berkah berkali-kali lipat atas perbuatan apa yang sudah mereka lakukan. Ritual umum yang dilakukan para umat Budha yaitu membaca mantra, pelepasan hewan yang dikurung, makan makanan vegetarian, dan memandikan patung-patung Budha atau dikatakan sebuah lambang asal legenda sang Budha yang dimandikan oleh air dari sembilan naga yang segera setelah kelahirannya. Sebagaian besar patung sang Budha yang berada pada kuil akan diterangi pada hari raya waisak. Pada perayaannya akan diakhiri dengan menyalakan lilin sepanjang jalan yang di lewati dan akan menghidupkan lampion disaat sesi penutupan acara.
Hari besar para umat Budha ini dirayakan pada bulan pada bulan Mei, yaitu pada waktu terangnya bulan pertama (purnama sidhi) untuk memperingati Tiga peristiwa penting. Hari peristiwa penting ini yang di maksud adalah lahirnya pangeran Siddharta (623 S.M), Pangeran Siddharta mencapai penerangan Agung dan menjadi Budha (588 S.M), Budha Gautama Parinibbana (543 S.M). tiga peristiwa penting ini dinamakan “Trisuci Waisak” oleh para umat Budha. Pada perayaan tiga peristiwa penting ini, keputusan untuk merayakannya dinyatakan pada konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia.
Melihat perayaan pada hari waisak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (25/Mei/2013). Mulai dari sore hari semua jalan menuju pintu masuk gerbang candi Borobudur dipadati oleh semua para pengunjung dari berbagai tempat dan negara untuk bisa menyaksikan acara waisakan tahun ini di candi tersebut. Dengan jalan kaki mereka para pengunjung mentekadi untuk menunggu proses acara waisakan. Meskipun jarak dari parkiran Bis dan Motor bisa dikatakan jauh dari gerbang masuk, tetapi karena keinginan dan semangat untuk mengikuti dan meyaksikan ritual waisak, mereka tak kenal lelah menanti acara. Berbondong-bondong dan bergandengan mereka lakoni meskipun saat itu kondisi cuaca kota Magelang-Borobudur sedang hujan rintik-rintik.
Semakin malam jalan menuju candi borobudur di padati oleh Mobil yang parkir di samping jalan, karena parkir yang tersedia tidak mencukupi banyaknya mobil yang berdatangan dari berbagai kota di indonesia. Tidak ketinggalan, Polisi Lalu Lintas ikut andil juga dalam perayaan waisak, para polisi membantu para pengendara mobil dan motor untuk mengatur arah jalur lalu lintas yang masuk agar tidak mengalami kemacetan yang padat. Tahu sendiri bagaimana orang indonesia kalau sudah tidak sabar dengan kemacetan, yang pasti mereka bermain klakson yang tidak ada aturan, semua pada berisik.

Begitupun juga ketika acara selesai para mobil keluar berjejeran mengantri keluar dari parkiran. Saling mendahului sampai pada tujuan jalan menuju jalan Magelang-Yogyakarta yang kondisinya macet. Begitupun juga hujan rintik masih menjadi sahabat pada penutupan acara waisakan di Borobudur. Di samping macet dan ditemani dengan hujan rintik, yang terlintas hanya sabar yang ada agar selamat sampai tujuan.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa