Oleh: Mas Allam*
Hari raya besar waisak merupakan hari yang sangat penting dalam
kalender Budha dan dirayakan oleh kaum Budha sedunia. Pada hari besar waisak
ini para kaum budha berkumpul di berbagai kuil sebelum fajar menyongsong untuk
melakukan upacara tiga mustika suci: Sang budha, Dharma, sangha. Upacara yang
dilakukan yaitu persembahan sederhana berupa bunga, lilin, dan dupa yang akan
ditaruh di kaki para biksu-biksu. Persembahan yang dilakukan ini bermaksud
untuk merefleksi para umat Budha bahwa hidup juga akan musnah dan hancur sama
seperti persembahan yang mereka lakukan yang nantinya seperti akan habis
terbakarnya oleh dupa, lilin, dan layunya bunga.
Para umat Budha percaya dengan tindakan-tindakan yang baik pada
hari waisak ini. Mereka menyakini bahwa apa yang dilakukan akan memberi berkah
berkali-kali lipat atas perbuatan apa yang sudah mereka lakukan. Ritual umum
yang dilakukan para umat Budha yaitu membaca mantra, pelepasan hewan yang
dikurung, makan makanan vegetarian, dan memandikan patung-patung Budha atau
dikatakan sebuah lambang asal legenda sang Budha yang dimandikan oleh air dari
sembilan naga yang segera setelah kelahirannya. Sebagaian besar patung sang
Budha yang berada pada kuil akan diterangi pada hari raya waisak. Pada perayaannya
akan diakhiri dengan menyalakan lilin sepanjang jalan yang di lewati dan akan
menghidupkan lampion disaat sesi penutupan acara.
Hari besar para umat Budha ini dirayakan pada bulan pada bulan Mei,
yaitu pada waktu terangnya bulan pertama (purnama sidhi) untuk memperingati
Tiga peristiwa penting. Hari peristiwa penting ini yang di maksud adalah
lahirnya pangeran Siddharta (623 S.M), Pangeran Siddharta mencapai penerangan
Agung dan menjadi Budha (588 S.M), Budha Gautama Parinibbana (543 S.M). tiga
peristiwa penting ini dinamakan “Trisuci Waisak” oleh para umat Budha. Pada perayaan
tiga peristiwa penting ini, keputusan untuk merayakannya dinyatakan pada
konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia.
Melihat perayaan pada hari waisak di Borobudur, Magelang, Jawa
Tengah (25/Mei/2013). Mulai dari sore hari semua jalan menuju pintu masuk
gerbang candi Borobudur dipadati oleh semua para pengunjung dari berbagai
tempat dan negara untuk bisa menyaksikan acara waisakan tahun ini di candi
tersebut. Dengan jalan kaki mereka para pengunjung mentekadi untuk menunggu
proses acara waisakan. Meskipun jarak dari parkiran Bis dan Motor bisa
dikatakan jauh dari gerbang masuk, tetapi karena keinginan dan semangat untuk
mengikuti dan meyaksikan ritual waisak, mereka tak kenal lelah menanti acara. Berbondong-bondong
dan bergandengan mereka lakoni meskipun saat itu kondisi cuaca kota Magelang-Borobudur
sedang hujan rintik-rintik.
Semakin malam jalan menuju candi borobudur di padati oleh Mobil
yang parkir di samping jalan, karena parkir yang tersedia tidak mencukupi
banyaknya mobil yang berdatangan dari berbagai kota di indonesia. Tidak ketinggalan,
Polisi Lalu Lintas ikut andil juga dalam perayaan waisak, para polisi membantu
para pengendara mobil dan motor untuk mengatur arah jalur lalu lintas yang
masuk agar tidak mengalami kemacetan yang padat. Tahu sendiri bagaimana orang
indonesia kalau sudah tidak sabar dengan kemacetan, yang pasti mereka bermain
klakson yang tidak ada aturan, semua pada berisik.
Begitupun juga ketika acara selesai para mobil keluar berjejeran
mengantri keluar dari parkiran. Saling mendahului sampai pada tujuan jalan
menuju jalan Magelang-Yogyakarta yang kondisinya macet. Begitupun juga hujan
rintik masih menjadi sahabat pada penutupan acara waisakan di Borobudur. Di samping
macet dan ditemani dengan hujan rintik, yang terlintas hanya sabar yang ada
agar selamat sampai tujuan.
RSS Feed
Twitter
5/26/2013 05:56:00 AM
Unknown
Posted in
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa