Awal
minggu ini redaksi LPM Metamorfosa akan menyikapi bagaimana dan kenapa seorang
astronot yang hidupnya di luar angkasa harus atau bahkan wajib memakai pelindung
yaitu baju dinas putih disaat mereka para astronot sedang melakukan tugas. Pentingnya
baju astronot ketika mereka siaga mencari tahu berbagai kerahasian alam raya
ini. Sampai sekarang masih menjadi tekaki-teki kehidupan para astronomi untuk
membuktikan bahwa keingintahuan mereka akan terbuktikan dengan cara-cara para
astronot untuk membuktikan rahasia alam ini. Perlu kita ketahui bahwasaanya
hidup keseharian mereka berbeda dengan para manusia yang hidupnya hanya di bumi
yang kerjaannya bekerja, makan dan tidur untuk memenuhi kebutuhan primer,
sekunder, dan tersier. Para astronot hidupnya selalu dalam keingin tahuan mencari
kebenaran untuk memenuhi kebutuhan pikirannya yang selalu ingin tahu. “Aku
tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang yang penasaran”, tandasnya
Albert Einstien.
Kembali
ke astronot, para astronot ketika sedang beraksi mereka memakai baju putih,
karena baju yang digunakan memiliki fungsi tertentu. Fungsi baju para astronot
bewarna putih salah satunya bahwa untuk mnghadapi ancaman radiasi yang
berbahaya dari cahaya matahari secara langsung, karena melihat radiasi tersebut
tidak kesaring oleh atsmosfer sperti ketika di bumi. cahaya matahari yang
menuju kebumi melewati atsmosfer bumi. Dengan karena itu baju dinas seorang
astronot didesain sedemikian dengan memaksimalkan fungsinya untuk mencegah
radiasi yang berbahaya tersebut yang akan menjamah atau menyentuh tubuh
astronot. Pada ayat al-qur’an menerangkan bahwa segala sesuatu yang
diciptakannya sudah ada ukurannya. Oleh krena itu, berbagai spektrum memiliki
fungsi tersendiri. Terlihat bahwa pada QS. Al-Qamar, ayat 49 bahwa:
$¯RÎ) ¨@ä. >äóÓx« çm»oYø)n=yz 9ys)Î/ ÇÍÒÈ
Setiap
bahan yang digunakan untuk baju dinas seorang astronot memiliki respon tertentu
terhadap radiasi yang berbahaya. Salah satu jika suatu bahan besifat memantulkan
radiasi spektrum merah dan menyerap radiasi lainnya, maka bahan tersebut akan
terlihat berwarna merah dimata manusia. Prinsip yang sama juga berlaku pada
masing-masing spektrum lainnya seperti kuning, hijau, dan biru. Kemudian ketika
suatu bahan yang tidak memantulkan semua radiasi, maka yang terjadi bahan
tersebut akan tampak hitam pada mata manusia. Ketika kondisi gelap tanpa
cahaya, warna yang tampak dan yang diterima oleh mata manusia adalah semuanya
hitam. Karena tidak da radiasi cahaya yang dapat memantulkan cahaya kepada mata
manusia maka yang terjadi pada mata tersebut tidak dapat melihat apapun. Contoh
sederhana ketika kita masuk dalam suatu ruangan tanpa ada cahaya sedikit apapun
maka yang terjadi adalah kita dalam kondisi buta atau tidak dapat melihat
apapun apa yang ada di sekitar kita.
Kenapa
harus berwarna putih untuk menjadi baju dinas seorang astronot?. Alasan memakai
warna putih bahwasanya warna putih memiliki fungsi yang bersifat memantulkan semua
radiasi. Radiasi yang sangat berbahaya tersebut tidak akan mengalami penjamahan
terhadap tubuh astronot, melainkan radiasi tersebut akan terpantulkan lagi
keluar angkasa. Begitupun juga fungsi terhadap para astronot sendiri, dengan
bahan yang warnanya putih berfungsi untuk tetap menghangatkan tubuh astronot
tersebut. Karena radiasi yang dipancarkan oleh tubuh astronot itu sendiri akan
kembali ke dalam dan tidak terpantulkan keluar angkasa, yang pasti tubuh
astronot itu sendiri tetap aman meskipun ada gangguan radiasi dari luar.
Baju
dinas yang digunakan oleh astronot atau lebih kenalnya baju antariksa NASA yang
memiliki nama Extravehicular Mobility Unit (EMU) dilengkapi dengan:
1.
Helm. Sebagai pelindung
kepala astronot agar tidak terkena oleh sinar matahari, radiasi sinar kosmis,
partikel yang bermuatan, dan lain sebagainya.
2.
Sarung tangan
dan sepatu boot. Sebagai pelindung tangan dan kaki seorang astronot.
3.
perangkat primary life-support system. Sebagai penyediaan
oksigen, pengaturan tekanan udara, dan kelembaman. Perangkat ini didesain
berbentuk tas punggung.
4.
Radio
komunikasi. Sebagai alat komunikasi para astronot saat diluar angkasa. Kita ketahui
bahwa dalam ruang hampa udara tidak ada gelombang suara untuk menghantarkan
suara.
Kontemporer awal minggu
ini pada akhir bulan mei 2013 memiliki kajian luar biasa yang perlu diketahui
oleh semua umat manusia. Semoga pengetahuan ini dapat bermanfaat oleh semua
manusia baik itu orang sains maupun orang awam pada umumnya. (Mas Allam, Redaksi).
RSS Feed
Twitter
5/27/2013 02:08:00 AM
Unknown

Posted in
kontemporer....bagus...
BalasHapus