KESETIMBANGAN JIWA SOSIAL REVERSIBEL AKADEMIS
...Kruwak
Meta(8/10), Seorang Tholibul ‘ilm dari awal pemberangkatan sampai
tujuan sudah meniatkan dalam dirinya untuk belajar-walau beberapa individu
berangkat tanpa niat yang jelas. Tholibul
‘ilm dalam hal ini adalah mahasiswa. Mahasiswa yang menempuh di bangku
perguruan tinggisecara tidak sadar akan menumbuhkan pola pikir yang
ke-Akademisan hingga menjadi tolak ukur, walau pemahaman yang muncul kemudian
adalah ambigu.Ke-Akademisan inipun diperkuat oleh mahasiswa eksakta. Dilihat
dari prospek dan kebiasaan yang dilalui sehari-hari oleh mahasiswa eksakta yang
berkutak pada angka-angka dan rumus-rumus sehingga mengakibatkan mahasiswa
cenderung pasif dan asumsi –benar atau tidak- yang tampak kemudian adalah sikap
individulis, menutup diri, kurang membaur, sulit diajak komunikasi dan
sebagainya.
Dari realita inilah, maka dalam wacana diskusi yang kalut
dan lumayan memakan waktu untuk menemukan titik temu didapat sebuah kerangka
acuan untuk mengungkap sisi lain dari seorang mahasiswa eksakta yang berada di
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan lebih tepatnya adalah
mahasiswa Sains dan Teknologi.
Dilihat dari latar belakang pendidikanya pun, mahasiswa
Saintek memang kurang mengenal tentang realitas sosial. Mereka hanya akan tau
kewajiban dan berusaha memenuhi kewajiban itu sendiri dengan patuh dan tanpa
rasa kurang peka dengan lingkungan disekitar. Kurangnya interaksi antar sesama
juga akan memicu terjadinya kekurangan jiwa sosial yang memang sulit
dicanangkan pada mahasiswa Saintek. Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya
mahasiswa Saintek fokus pada prestasi belajar sebagai salah satu idealisme
seorang akademis itu sendiri. Ketika dipikir ulang, kontruks idealis seperti
ini dalam banyak kesempatan akan menimbulkan cercaan pedas dari banyak
kalangan, bahkan bisa dianggap suatu idealis yang muhal dengan sifat
keduniaan yang dijadikan targer oleh mahasiska akademis. Sering kita temui,
banyak mahasiswa yang mendapat prestasi gemilang ketika menempuh pendidikan di
Perguruan Tinggi malah menjadi endapan di masyarakat yang tidak hanya merugikan
diri sendiri dan keluarga, akan tetapi masyarakat juga menerima imbas dari
produk yang mereka ciptakan dan dibangun semasa kuliah. Inilah akibat kurangnya
relasi yang dikembangkan oleh mahasiwa untuk menemukan jiwa kesosialan berikut
manifestasi keilmuan.
Idealnya, mahasiswa Saintek jika mengaplikasikan sikap
ilmiahnya pada kehidupan sosial maka akan menampakkan sikap kritis yang
ountentik. Akan tetapi sangat disayangkan jika pada kenyataanya mahasiswa
saintek bersikap apatis dan tidak mau tau kehidupan lingkungan. Sebetulnya,
pola pikir mahasiswa Saintek sudah baik. Seperti; nalar yang empiris, rasional,
logis dan ilmiah. Problemnya selanjutnya sangat komplek karena yang menjadi
kajian lanjutan adalah menyikapi masing-masing pribadi yang belum menumbuhkan
sikap kritis dan kurang memanfaatkan konsep yang diperoleh di kelas untuk
direalisasikan dan implementasikan pada kenyataan hidup yang merupakan
tantangan tersendiri bagi seorang mahasiwa sebagai kaum intelektual, agen
perubahan, kontrol masyarakat dan yang sangat diharapkan di tengah-tengah
masyarakat untuk membantu persoalan bangsa, menjawab tantangan globalisai dan
medernisasi lewat apa yang mereka diskripsikan semasa di perguruan tinggi.
Untuk memperoleh Aufklarung dari kebimbangan ini,
Crew-Meta melakukan wawancara kepada salah seorang dosen di Prodi Kimia, Imelda
Fajriyati, M.Si. Dari diskusi bersama beliau disela-sela kesibukannya
menuturkan “sikap kritis bisa ada atau tampak itu ada dua faktor, pribadi dan
lingkungan. Jika pribadi seorang mahasiswa Saintek bisa bersikap terbuka dan
mau bembaur, maka proses sosialisasi sudah bisa diamalkan. Sebaliknya, jika
individualis maka yang akan ditemui adalah kekakuan dalam bergaul. Yang kedua
lingkungan yang proporsional. Lingkungan yang proporsional juga sangat
diperhitungkan dalam menumbuhkan sikap kritis mahasiswa Saintek, walau individu
yang sebelumnya tertutup jika menemui lingkungan yang familiar maka akan
merangsang nalar untuk menimbulkan reaksi-reaksi yang tidak diperhitungkan.
Bisa juga lingkungan yang kurang mendukung akan mengakibatkan seorang mahasiswa
mengalami kemunduran, walaupun mental dan kepribadian mantap jika dihadapkan
pada suatu lingkungan yang kurang reversibel bisa mengakibatkan kekakuan dalam
bersikap dan berpikir hingga terbentuk pola pikir yang irreversibel”. Dalam
interpretasi pribadi ada dua pengertian yang bisa dipahami. Pertama ekstofet,
yaitu seseorang yang suka bergaul, membuka diri kepada sekitar dan mampu
bersosialisasi. Yang kedua adalah
introfet, yaitu pribadi yang pasif, tertututp dan cenderung mengisolasi
diri dari lingkungan. Sehingga akan muncul nilai kompromi dengan lingkungan
yang akan menentukan arah ketertarikan mahasiswa saintek untuk berpetualang
dalam ranah sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dalam kesempatan
kali ini, nara sumber banyak memberikan penjelasan yang terperinci mengenai
sikap yang harus diambil. “Untuk sikap dosen sendiri mengenai mahasiswa Saintek
adalah mengajar sebaik-baiknya, membuat mahasiswa mengusai materi yang telah
disampaikan karena tugas seorang dosen adalah mengajar dan membekali mahasiswa hadt
skill dengan memberikan tugas-tugas akademis, sedangkan untuk soft skillnya
mahasiswa bisa memperoleh dari luar kelas atau pengaplikasian dari apa yang
didapat di dalam kelas”. Papar Ibu Imelda saat ditanya mengenai pandangan dosen
terhadap mahasiswa Saintek terkait hal di atas.
Menyikapi problem mahasiswa yang pasif, kurang mampu
bersosialisa dan bersikap apatis terhadap lingkungan sekitar hingga membutakan
penglihatan serta kepekaan yang lemah mengakibatkan nalar kritis sains tidak
bisa diimplementasikan secara pantas dan mengalami pola pikir yang entropi
membtuhkan penanganan jitu agar mahasiswa sebagai pelanggan bisa membeli solusi
yang diharapkan bisa mengatasi persoalan mumet ini agar supaya jiwa
sosial menjadi azas di tengah-tengah saintisme. Jiwa sosial sangat ditekankan
dalam diri seorang saintis atau eksakta untuk mengawal pergerakan bangsa yang
membutuhkan perhatian lebih atas gejolak yang terjadi pada jajaran birokrat
hingga rakyat. Penekanan jiwa sosial ini tidak membabi buta, akan tetapi mahasiswa
mampu menyeimbangkan jiwa sosial dan akademis. Bisa ditarik benang harkat (pergerakan)
untuk menetralkan antara sosial dan akademis dengan jawaban masing-masing
pribadilah yang akan menentukan gerak progres dan lingkungan sebagai wahana
transformasi keilmuan demi terwujudnya tatanan mahasiswa eksakta yang sosialis.
Lain halnya
ketika mahasiswa dimintai pendapat tentang sosial akademis seperti yang
ditutrkan Andi Prodi Matematika semester-7 berikut. “Mungkin yang perlu
disoroti dari mahasiswa saintek adalah sikap pragmatis. Pragmatis salah satu
pola sikap yang belakangan ini sering manjadi lontaran kemarahan seorang –sebut
saja- arif juga tidak luput mengakar pada mahasiswa. Begitupun insan eksakta
yang makin terbentuk sifat konsumtifnya melalui lembaga yang diberi nama
akademis untuk mencetak prodak siap saji dikandangkan dan dikoloni darah daging
sendiri sesuai skenario westernisasi”. Andi menambahkan bahwa jiwa sosial
tumbuh tidak harus aktif dalam banyak kegiatan atau aktif diorganisasi, lokus
kampus, kelas atau sekumpulan kecil sekalipun jika di dalamnya terjadi suatu
gejolak sistem pergerakan yang masif juga akan mampu mendobrak jiwa sosial yang
bisa lebih besar dan menciptakan gelombang tranfensal untuk mengawal bangsa.
Konklusi harapan yang ideal adalah; pertama, sebagai Tholibul ‘ilm mahasiswa tetap dengan
kewajibannya sebagai insan pergerakan akademik. Kedua, apa yang diperoleh dari
kelas berupa hadt skill mampu diamalkan hingga membuahkan amal sholeh
yang bermanfaat dan barokah. Terakhir, agar tidak berkutat pada angka-angka dan
rumus-rumus saja mahasiswa Saintek harus mengasah kemampuan soft skill
melalui aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan baik di atmosfer kampus
sendiri hingga rimba yang sangat komplek yaitu bangsa. Untuk itu kesetimbangan
sosial dan reversibel akademis sangat menentukan neuklous pergerakan bangsa
inteletual yang rahmatal lil alamin.[Ef,crew]
crew LPM Metamorfosa FST UIN SUKA
RSS Feed
Twitter
11/09/2013 04:40:00 PM
Unknown

Posted in
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa