Sabtu, 09 November 2013

KESETIMBANGAN JIWA SOSIAL REVERSIBEL AKADEMIS
...Kruwak



id.wikipedia.org

Meta(8/10), Seorang Tholibul ‘ilm dari awal pemberangkatan sampai tujuan sudah meniatkan dalam dirinya untuk belajar-walau beberapa individu berangkat tanpa niat yang jelas. Tholibul ‘ilm dalam hal ini adalah mahasiswa. Mahasiswa yang menempuh di bangku perguruan tinggisecara tidak sadar akan menumbuhkan pola pikir yang ke-Akademisan hingga menjadi tolak ukur, walau pemahaman yang muncul kemudian adalah ambigu.Ke-Akademisan inipun diperkuat oleh mahasiswa eksakta. Dilihat dari prospek dan kebiasaan yang dilalui sehari-hari oleh mahasiswa eksakta yang berkutak pada angka-angka dan rumus-rumus sehingga mengakibatkan mahasiswa cenderung pasif dan asumsi –benar atau tidak- yang tampak kemudian adalah sikap individulis, menutup diri, kurang membaur, sulit diajak komunikasi dan sebagainya.
            Dari realita inilah, maka dalam wacana diskusi yang kalut dan lumayan memakan waktu untuk menemukan titik temu didapat sebuah kerangka acuan untuk mengungkap sisi lain dari seorang mahasiswa eksakta yang berada di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan lebih tepatnya adalah mahasiswa Sains dan Teknologi.
            Dilihat dari latar belakang pendidikanya pun, mahasiswa Saintek memang kurang mengenal tentang realitas sosial. Mereka hanya akan tau kewajiban dan berusaha memenuhi kewajiban itu sendiri dengan patuh dan tanpa rasa kurang peka dengan lingkungan disekitar. Kurangnya interaksi antar sesama juga akan memicu terjadinya kekurangan jiwa sosial yang memang sulit dicanangkan pada mahasiswa Saintek. Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya mahasiswa Saintek fokus pada prestasi belajar sebagai salah satu idealisme seorang akademis itu sendiri. Ketika dipikir ulang, kontruks idealis seperti ini dalam banyak kesempatan akan menimbulkan cercaan pedas dari banyak kalangan, bahkan bisa dianggap suatu idealis yang muhal dengan sifat keduniaan yang dijadikan targer oleh mahasiska akademis. Sering kita temui, banyak mahasiswa yang mendapat prestasi gemilang ketika menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi malah menjadi endapan di masyarakat yang tidak hanya merugikan diri sendiri dan keluarga, akan tetapi masyarakat juga menerima imbas dari produk yang mereka ciptakan dan dibangun semasa kuliah. Inilah akibat kurangnya relasi yang dikembangkan oleh mahasiwa untuk menemukan jiwa kesosialan berikut manifestasi keilmuan.
            Idealnya, mahasiswa Saintek jika mengaplikasikan sikap ilmiahnya pada kehidupan sosial maka akan menampakkan sikap kritis yang ountentik. Akan tetapi sangat disayangkan jika pada kenyataanya mahasiswa saintek bersikap apatis dan tidak mau tau kehidupan lingkungan. Sebetulnya, pola pikir mahasiswa Saintek sudah baik. Seperti; nalar yang empiris, rasional, logis dan ilmiah. Problemnya selanjutnya sangat komplek karena yang menjadi kajian lanjutan adalah menyikapi masing-masing pribadi yang belum menumbuhkan sikap kritis dan kurang memanfaatkan konsep yang diperoleh di kelas untuk direalisasikan dan implementasikan pada kenyataan hidup yang merupakan tantangan tersendiri bagi seorang mahasiwa sebagai kaum intelektual, agen perubahan, kontrol masyarakat dan yang sangat diharapkan di tengah-tengah masyarakat untuk membantu persoalan bangsa, menjawab tantangan globalisai dan medernisasi lewat apa yang mereka diskripsikan semasa di perguruan tinggi.
            Untuk memperoleh Aufklarung dari kebimbangan ini, Crew-Meta melakukan wawancara kepada salah seorang dosen di Prodi Kimia, Imelda Fajriyati, M.Si. Dari diskusi bersama beliau disela-sela kesibukannya menuturkan “sikap kritis bisa ada atau tampak itu ada dua faktor, pribadi dan lingkungan. Jika pribadi seorang mahasiswa Saintek bisa bersikap terbuka dan mau bembaur, maka proses sosialisasi sudah bisa diamalkan. Sebaliknya, jika individualis maka yang akan ditemui adalah kekakuan dalam bergaul. Yang kedua lingkungan yang proporsional. Lingkungan yang proporsional juga sangat diperhitungkan dalam menumbuhkan sikap kritis mahasiswa Saintek, walau individu yang sebelumnya tertutup jika menemui lingkungan yang familiar maka akan merangsang nalar untuk menimbulkan reaksi-reaksi yang tidak diperhitungkan. Bisa juga lingkungan yang kurang mendukung akan mengakibatkan seorang mahasiswa mengalami kemunduran, walaupun mental dan kepribadian mantap jika dihadapkan pada suatu lingkungan yang kurang reversibel bisa mengakibatkan kekakuan dalam bersikap dan berpikir hingga terbentuk pola pikir yang irreversibel”. Dalam interpretasi pribadi ada dua pengertian yang bisa dipahami. Pertama ekstofet, yaitu seseorang yang suka bergaul, membuka diri kepada sekitar dan mampu bersosialisasi. Yang kedua adalah  introfet, yaitu pribadi yang pasif, tertututp dan cenderung mengisolasi diri dari lingkungan. Sehingga akan muncul nilai kompromi dengan lingkungan yang akan menentukan arah ketertarikan mahasiswa saintek untuk berpetualang dalam ranah sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.
             Dalam kesempatan kali ini, nara sumber banyak memberikan penjelasan yang terperinci mengenai sikap yang harus diambil. “Untuk sikap dosen sendiri mengenai mahasiswa Saintek adalah mengajar sebaik-baiknya, membuat mahasiswa mengusai materi yang telah disampaikan karena tugas seorang dosen adalah mengajar dan membekali mahasiswa hadt skill dengan memberikan tugas-tugas akademis, sedangkan untuk soft skillnya mahasiswa bisa memperoleh dari luar kelas atau pengaplikasian dari apa yang didapat di dalam kelas”. Papar Ibu Imelda saat ditanya mengenai pandangan dosen terhadap mahasiswa Saintek terkait hal di atas.
            Menyikapi problem mahasiswa yang pasif, kurang mampu bersosialisa dan bersikap apatis terhadap lingkungan sekitar hingga membutakan penglihatan serta kepekaan yang lemah mengakibatkan nalar kritis sains tidak bisa diimplementasikan secara pantas dan mengalami pola pikir yang entropi membtuhkan penanganan jitu agar mahasiswa sebagai pelanggan bisa membeli solusi yang diharapkan bisa mengatasi persoalan mumet ini agar supaya jiwa sosial menjadi azas di tengah-tengah saintisme. Jiwa sosial sangat ditekankan dalam diri seorang saintis atau eksakta untuk mengawal pergerakan bangsa yang membutuhkan perhatian lebih atas gejolak yang terjadi pada jajaran birokrat hingga rakyat. Penekanan jiwa sosial ini tidak membabi buta, akan tetapi mahasiswa mampu menyeimbangkan jiwa sosial dan akademis. Bisa ditarik benang harkat (pergerakan) untuk menetralkan antara sosial dan akademis dengan jawaban masing-masing pribadilah yang akan menentukan gerak progres dan lingkungan sebagai wahana transformasi keilmuan demi terwujudnya tatanan mahasiswa eksakta yang sosialis.
Lain halnya ketika mahasiswa dimintai pendapat tentang sosial akademis seperti yang ditutrkan Andi Prodi Matematika semester-7 berikut. “Mungkin yang perlu disoroti dari mahasiswa saintek adalah sikap pragmatis. Pragmatis salah satu pola sikap yang belakangan ini sering manjadi lontaran kemarahan seorang –sebut saja- arif juga tidak luput mengakar pada mahasiswa. Begitupun insan eksakta yang makin terbentuk sifat konsumtifnya melalui lembaga yang diberi nama akademis untuk mencetak prodak siap saji dikandangkan dan dikoloni darah daging sendiri sesuai skenario westernisasi”. Andi menambahkan bahwa jiwa sosial tumbuh tidak harus aktif dalam banyak kegiatan atau aktif diorganisasi, lokus kampus, kelas atau sekumpulan kecil sekalipun jika di dalamnya terjadi suatu gejolak sistem pergerakan yang masif juga akan mampu mendobrak jiwa sosial yang bisa lebih besar dan menciptakan gelombang tranfensal untuk mengawal bangsa.

            Konklusi harapan yang ideal adalah; pertama, sebagai Tholibul ‘ilm mahasiswa tetap dengan kewajibannya sebagai insan pergerakan akademik. Kedua, apa yang diperoleh dari kelas berupa hadt skill mampu diamalkan hingga membuahkan amal sholeh yang bermanfaat dan barokah. Terakhir, agar tidak berkutat pada angka-angka dan rumus-rumus saja mahasiswa Saintek harus mengasah kemampuan soft skill melalui aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan baik di atmosfer kampus sendiri hingga rimba yang sangat komplek yaitu bangsa. Untuk itu kesetimbangan sosial dan reversibel akademis sangat menentukan neuklous pergerakan bangsa inteletual yang rahmatal lil alamin.[Ef,crew]


crew LPM Metamorfosa FST UIN SUKA

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Kirim Tulisan Anda Baik Berupa Artikel, Opini, Cerpen, Dll ke
Email : metamorfosa96@yahoo.com
Add : Lpm Metamorfosa
Follow : @LpmMetamorfosa